Aku Mau!
Pada malam melagu
Mendongeng bingar Parijs van Java
Dinaung lukisan separuh bulan tak terhitung bintang
Pada manusia menyemut
Mondar-mandir sana-sini
Sekian masa sebuah rasa membiru kuasai relung
Setelah baru saja selesai mencerna kisah remaja
Seperti ini:
Aku mau! Aku mau!
Seperti dia di sana
Telah menggenggam pujaan hati di kepal tangan
Aku mau! Aku mau!
Dipeluknya
Dibenamnya dalam kekar bahunya
Maka kepadamu entah siapa
Kuharapi kurindui
Lipur dukana aku dalam suci!
Wahai pujangga wahai penyair wahai entahlah
Di luar sana di belahan bumi mana pun
Pasti akan membuketi aku bunga
Pada genggam jemari lalu bercumbu
Suatu waktu nanti dalam suci
Aku mau!
Bandung, 21 Maret 2002
Surat untuk Bulan
Tertanggal Dua Belas Bulan Tiga – Nol Dua
Bisakah sajakku kali ini sampai kepadamu akhir hari ini, Bulan?
Tak kutemui engkau di tempat kita biasa bersua
Kucari-cari barangkali sembunyi di balik dedaunan
Kuperhatikan ujung tiang menjulang
Kau tak bertengger di sana
Kucermati kolam cerminmu
Tak terkaca sedikitpun wajahmu itu
Kutengok-tengoki tiap sudut gelas jendela pada tiap sisi rumahku, di mana pula engkau hari ini, Bulan?
Harap-harap cemas semoga awan berkehendak sampaikan surat tertanggal dua belas bulan tiga padamu:
"Perhatikan aku sesaksama mungkin
Bila perlu kutelanjangi diriku
Sampai engkau lebih dari sekedar melihat dan tahu
Bagaimana rupaku di hadapmu
Lantas beritahu aku bagian mana yang mesti kusempurnakan
Sebesar apakah tambalan yang harus kulekatkan di atas sobekan-sobekan pori kulitku
Bagaimana pula kabar noda hitam dalam belangaku itu?
Bisakah kukuras kukeluarkan noda itu?
Lain daripada itu
Sejelek sehina apakah aku sehingga aku patut dipersembahi yang terburuk
Sebab kurasa aku terlalu berharga untuk demikian adanya
(Iya kan, Bulan?)
Ah, kutunggu segala jawab dan balasmu untuk surat ini
Tapi tolong cepat-cepat ya!
(Aku tak ingin mati lemas karena karena terlalu lama menunggu)"
Tertanda
Aku
Karawang, 12 Maret 2002
Elegi Sikap
Biru rasa hadir di lingkup kamar
Disekat empat sisi rapat-rapat
Entah dari dahulu atau baru saja bertamu
Entah tak terakui atau memang tak ditahui
Kecuali satu
Demi arogan lekuk wajah
Dipasang beratus topeng
Melekat pasti di muka
Menyembunyi sebenar-benar mimpi
Dikatup sekian sandiwara rekaan; Menyombong!
Sesungguhnya
Terlunglai lemah sama sekali
Karawang 9 Maret, 2002
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


No comments:
Post a Comment